Lewati ke konten utama
Logo Memahami Aljabar Linear

Subbab 6.3 Basis ortogonal dan proyeksi

Kita mengetahui bahwa sistem linear \(A\xvec=\bvec\) tidak konsisten ketika \(\bvec\) tidak berada di \(\col(A)\text{,}\) yaitu ruang kolom \(A\text{.}\) Nanti dalam bab ini, kita akan mengembangkan strategi untuk menangani sistem tak konsisten dengan mencari \(\bhat\text{,}\) yakni vektor di \(\col(A)\) yang meminimalkan jarak terhadap \(\bvec\text{.}\) Dengan demikian, persamaan \(A\xvec=\bhat\) konsisten dan himpunan solusinya dapat memberi kita informasi yang berguna tentang sistem semula \(A\xvec=\bvec\text{.}\)
Dalam bagian ini dan bagian berikutnya, kita akan mengembangkan beberapa teknik untuk menemukan \(\bhat\text{,}\) yakni vektor dalam suatu subruang \(W\) yang paling dekat dengan vektor \(\bvec\) tertentu.

Subbagian 6.3.1 Pendahuluan

Aktivitas Pratinjau 6.3.1.

Untuk aktivitas ini, ada baiknya kita mengingat kembali sifat distributif hasil kali titik:
\begin{equation*} \vvec\cdot(c_1\wvec_1+c_2\wvec_2) = c_1\vvec\cdot\wvec_1 + c_2\vvec\cdot\wvec_2\text{.} \end{equation*}
Kita akan bekerja dengan basis \(\real^2\) yang dibentuk oleh vektor
\begin{equation*} \wvec_1=\twovec12,\hspace{24pt} \wvec_2=\twovec{-2}1\text{.} \end{equation*}
(a)
Verifikasikan bahwa vektor \(\wvec_1\) dan \(\wvec_2\) saling ortogonal.
(b)
Misalkan \(\bvec =\twovec74\text{.}\) Carilah hasil kali titik \(\wvec_1\cdot\bvec\) dan \(\wvec_2\cdot\bvec\text{.}\)
(c)
Kita ingin menyatakan \(\bvec\) sebagai kombinasi linear dari \(\wvec_1\) dan \(\wvec_2\text{.}\) Artinya, kita perlu mencari bobot \(c_1\) dan \(c_2\) sedemikian sehingga
\begin{equation*} \bvec = c_1\wvec_1 + c_2\wvec_2\text{.} \end{equation*}
Untuk mencari bobot \(c_1\text{,}\) ambil hasil kali titik kedua ruas pernyataan ini dengan \(\wvec_1\text{:}\)
\begin{equation*} \bvec\cdot\wvec_1 = (c_1\wvec_1 + c_2\wvec_2)\cdot\wvec_1\text{.} \end{equation*}
lalu terapkan sifat distributif.
(d)
Dengan cara serupa, carilah bobot \(c_2\text{.}\)
(e)
Verifikasikan bahwa \(\bvec = c_1\wvec_1+c_2\wvec_2\) dengan menggunakan bobot yang telah Anda temukan.
Kita sering diminta menuliskan suatu vektor sebagai kombinasi linear dari vektor-vektor basis tertentu. Sebelumnya, kita melakukannya dengan menyelesaikan sistem linear. Aktivitas pratinjau memperlihatkan bagaimana tugas ini dapat disederhanakan ketika vektor-vektor basis saling ortogonal. Dalam bagian ini, kita akan menyelidiki hal tersebut dan kegunaan lain basis ortogonal.

Subbagian 6.3.2 Himpunan ortogonal

Aktivitas pratinjau membahas basis \(\real^2\) yang dibentuk oleh dua vektor ortogonal. Secara lebih umum, kita akan membahas suatu himpunan vektor ortogonal, sebagaimana dijelaskan dalam definisi berikut.

Definisi 6.3.1.

Yang dimaksud dengan himpunan ortogonal vektor adalah himpunan vektor tak nol yang setiap vektornya ortogonal terhadap semua vektor lainnya.

Contoh 6.3.2.

Vektor-vektor berdimensi 3
\begin{equation*} \wvec_1 = \threevec1{-1}1,\hspace{24pt} \wvec_2 = \threevec1{1}0,\hspace{24pt} \wvec_3 = \threevec1{-1}{-2}. \end{equation*}
membentuk himpunan ortogonal, yang dapat diverifikasi dengan menghitung
\begin{equation*} \begin{array}{rcl} \wvec_1\cdot\wvec_2 \amp {}={} \amp 0 \\ \wvec_1\cdot\wvec_3 \amp {}={} \amp 0 \\ \wvec_2\cdot\wvec_3 \amp {}={} \amp 0\text{.} \\ \end{array} \end{equation*}
Perhatikan bahwa himpunan vektor ini membentuk basis bagi \(\real^3\text{.}\)

Contoh 6.3.3.

Vektor-vektor
\begin{equation*} \wvec_1 = \fourvec1111,\hspace{24pt} \wvec_2 = \fourvec11{-1}{-1},\hspace{24pt} \wvec_3 = \fourvec1{-1}1{-1} \end{equation*}
membentuk himpunan ortogonal vektor berdimensi 4. Karena hanya terdapat tiga vektor, himpunan ini tidak membentuk basis bagi \(\real^4\text{.}\) Namun, himpunan ini membentuk basis bagi subruang berdimensi 3, \(W\text{,}\) dari \(\real^4\text{.}\)
Misalkan suatu vektor \(\bvec\) merupakan kombinasi linear dari himpunan ortogonal vektor \(\wvec_1,\wvec_2,\ldots,\wvec_n\text{;}\) yaitu, misalkan
\begin{equation*} c_1\wvec_1 + c_2\wvec_2 + \cdots + c_n\wvec_n = \bvec. \end{equation*}
Sama seperti dalam aktivitas pratinjau, kita dapat mencari bobot \(c_1\) dengan mengambil hasil kali titik kedua ruas dengan \(\wvec_1\) dan menerapkan sifat distributif hasil kali titik:
\begin{align*} (c_1\wvec_1 + c_2\wvec_2 + \cdots + c_n\wvec_n)\cdot\wvec_1 \amp = \bvec\cdot\wvec_1\\ c_1\wvec_1\cdot\wvec_1 + c_2\wvec_2\cdot\wvec_1 +\cdots + c_n\wvec_n\cdot\wvec_1 \amp = \bvec\cdot\wvec_1\\ c_1\wvec_1\cdot\wvec_1 \amp = \bvec\cdot\wvec_1\\ c_1 \amp = \frac{\bvec\cdot\wvec_1}{\wvec_1\cdot\wvec_1}\text{.} \end{align*}
Perhatikan bahwa adanya himpunan ortogonal membuat sebagian besar suku dalam jumlah tersebut menjadi nol. Dengan cara yang sama, kita memperoleh
\begin{equation*} c_i = \frac{\bvec\cdot\wvec_i}{\wvec_i\cdot\wvec_i} \end{equation*}
sehingga
\begin{equation*} \bvec = \frac{\bvec\cdot\wvec_1}{\wvec_1\cdot\wvec_1}\wvec_1 + \frac{\bvec\cdot\wvec_2}{\wvec_2\cdot\wvec_2}\wvec_2 + \cdots + \frac{\bvec\cdot\wvec_n}{\wvec_n\cdot\wvec_n}\wvec_n\text{.} \end{equation*}
Fakta ini kita catat dalam proposisi berikut.
Dengan menggunakan proposisi ini, kita dapat melihat bahwa himpunan vektor ortogonal harus bebas linear. Misalkan, sebagai contoh, \(\wvec_1,\wvec_2,\ldots,\wvec_n\) adalah himpunan vektor ortogonal tak nol dan salah satu vektornya merupakan kombinasi linear dari vektor lainnya, misalnya
\begin{equation*} \wvec_3 = c_1\wvec_1 + c_2\wvec_2\text{.} \end{equation*}
Dengan demikian, kita mengetahui bahwa
\begin{equation*} \wvec_3 = \frac{\wvec_3\cdot\wvec_1}{\wvec_1\cdot\wvec_1}\wvec_1 + \frac{\wvec_3\cdot\wvec_2}{\wvec_2\cdot\wvec_2}\wvec_2 = \zerovec\text{,} \end{equation*}
Hal ini tidak mungkin terjadi karena \(\wvec_3\) tak nol. Jadi,
Jika vektor-vektor dalam suatu himpunan ortogonal berdimensi \(m\text{,}\) vektor-vektor itu membentuk himpunan bebas linear dalam \(\real^m\) dan karena itu menjadi basis bagi subruang \(W=\laspan{\wvec_1,\wvec_2,\ldots,\wvec_n}\text{.}\) Jika terdapat \(m\) vektor dalam himpunan ortogonal tersebut, semuanya membentuk basis bagi \(\real^m\text{.}\)

Kegiatan 6.3.2.

Perhatikan vektor-vektor
\begin{equation*} \wvec_1 = \threevec1{-1}1,\hspace{24pt} \wvec_2 = \threevec1{1}0,\hspace{24pt} \wvec_3 = \threevec1{-1}{-2}. \end{equation*}
  1. Verifikasikan bahwa himpunan ini membentuk himpunan ortogonal vektor berdimensi \(3\text{.}\)
  2. Jelaskan mengapa kita mengetahui bahwa himpunan vektor ini membentuk basis bagi \(\real^3\text{.}\)
  3. Misalkan \(\bvec=\threevec24{-4}\text{.}\) Carilah bobot \(c_1\text{,}\) \(c_2\text{,}\) dan \(c_3\) yang menyatakan \(\bvec\) sebagai kombinasi linear \(\bvec=c_1\wvec_1 + c_2\wvec_2 + c_3\wvec_3\) dengan menggunakan Proposisi 6.3.4.
  4. Jika kita mengalikan vektor \(\vvec\) dengan skalar positif \(s\text{,}\) panjang \(\vvec\) juga dikalikan dengan \(s\text{;}\) yaitu, \(\len{s\vvec} = s\len{\vvec}\text{.}\)
    Dengan menggunakan pengamatan ini, carilah vektor \(\uvec_1\) yang sejajar dengan \(\wvec_1\) dan memiliki panjang 1. Vektor semacam itu disebut vektor satuan.
  5. Dengan cara serupa, carilah vektor satuan \(\uvec_2\) yang sejajar dengan \(\wvec_2\) dan vektor satuan \(\uvec_3\) yang sejajar dengan \(\wvec_3\text{.}\)
  6. Bentuklah matriks \(Q=\begin{bmatrix} \uvec_1 \amp \uvec_2 \amp \uvec_3 \end{bmatrix}\) dan carilah hasil kali \(Q^TQ\text{.}\) Gunakan Proposisi 6.2.8 untuk menjelaskan hasil Anda.
Aktivitas ini memperkenalkan cara penting untuk memodifikasi himpunan ortogonal agar vektor-vektor di dalamnya memiliki panjang satuan. Ingatlah bahwa kita dapat mengalikan sembarang vektor tak nol \(\wvec\) dengan suatu skalar agar vektor baru itu memiliki panjang 1. Sebagai contoh, kita mengetahui bahwa jika \(s\) adalah skalar positif, maka \(\len{s\wvec} = s\len{\wvec}\text{.}\) Untuk memperoleh vektor \(\uvec\) yang panjangnya satuan, kita menginginkan
\begin{equation*} \len{\uvec} = \len{s\wvec} = s\len{\wvec} = 1 \end{equation*}
sehingga \(s=1/\len{\wvec}\text{.}\) Dengan demikian,
\begin{equation*} \uvec = \frac{1}{\len{\wvec}}\wvec \end{equation*}
menjadi vektor satuan yang sejajar dengan \(\wvec\text{.}\)
Himpunan ortogonal yang vektor-vektornya memiliki panjang satuan disebut ortonormal dan sangat memudahkan perhitungan.

Definisi 6.3.6.

Himpunan ortonormal adalah himpunan ortogonal vektor yang setiap vektornya memiliki panjang satuan.

Contoh 6.3.7.

Vektor-vektor
\begin{equation*} \uvec_1=\twovec{1/\sqrt{2}}{1/\sqrt{2}},\hspace{24pt} \uvec_2=\twovec{-1/\sqrt{2}}{1/\sqrt{2}} \end{equation*}
merupakan himpunan vektor ortonormal dalam \(\real^2\) dan membentuk basis ortonormal bagi \(\real^2\text{.}\)
Jika kita membentuk matriks
\begin{equation*} Q=\begin{bmatrix} \uvec_1 \amp \uvec_2 \end{bmatrix} = \begin{bmatrix} 1/\sqrt{2} \amp -1/\sqrt{2} \\ 1/\sqrt{2} \amp 1/\sqrt{2} \\ \end{bmatrix}\text{,} \end{equation*}
kita memperoleh \(Q^TQ = I\) karena Proposisi 6.2.8 menyatakan bahwa
\begin{equation*} Q^TQ = \begin{bmatrix} \uvec_1\cdot\uvec_1 \amp \uvec_1\cdot\uvec_2 \\ \uvec_2\cdot\uvec_1 \amp \uvec_2\cdot\uvec_2 \\ \end{bmatrix} = \begin{bmatrix} 1 \amp 0 \\ 0 \amp 1 \\ \end{bmatrix} \end{equation*}
Aktivitas dan contoh sebelumnya mengilustrasikan proposisi berikut.

Subbagian 6.3.3 Proyeksi ortogonal

Sekarang kita beralih ke suatu masalah penting yang akan muncul dalam berbagai bentuk pada penyelidikan berikutnya. Misalkan, seperti diperlihatkan dalam Gambar 6.3.9, kita memiliki subruang \(W\) dari \(\real^m\) dan vektor \(\bvec\) yang tidak berada dalam subruang tersebut. Kita ingin mencari vektor \(\bhat\) dalam \(W\) yang paling dekat dengan \(\bvec\text{,}\) artinya jarak antara \(\bhat\) dan \(\bvec\) sekecil mungkin.
Kontrol papan ketik untuk menjelajahi diagram
Tombol Tindakan
Enter, A Aktifkan penjelajahan dengan papan ketik
B Aktifkan penjelajahan dengan menu
Escape Keluar dari mode penjelajahan
Panah bawah Jelajahi tingkat berikutnya di bawah
Panah atas Jelajahi tingkat berikutnya di atas
Panah kanan Jelajahi elemen berikutnya pada tingkat ini
Panah kiri Jelajahi elemen sebelumnya pada tingkat ini
X Aktifkan atau nonaktifkan mode ahli
W Tampilkan rincian tambahan jika tersedia
Spasi Ulangi keluaran suara
M Aktifkan pembesaran bertahap
Koma Aktifkan pembesaran langsung
N Nonaktifkan pembesaran
Z Tampilkan atau sembunyikan subtitel
C Gilir pengaturan kontras
T Gunakan warna monokrom
L Ganti bahasa jika tersedia
K Hentikan suara saat ini
Y Hentikan keluaran suara
O Mulai atau hentikan sonifikasi
P Ulangi keluaran sonifikasi
Dua vektor berdimensi tiga, \(\wvec_1\) dan \(\wvec_2\text{,}\) beserta bidang yang keduanya tentukan. Terdapat vektor lain \(\bvec\) yang tidak berada pada bidang tersebut. Proyeksi ortogonal \(\bhat\) dari \(\bvec\) ditampilkan sebagai vektor pada bidang yang paling dekat dengan vektor \(\bvec\text{.}\)
Gambar 6.3.9. Diberikan sebuah bidang dalam \(\real^3\) dan vektor \(\bvec\) yang tidak berada pada bidang tersebut, kita ingin mencari vektor \(\bhat\) pada bidang yang paling dekat dengan \(\bvec\text{.}\)
Sebagai permulaan, mari kita bahas masalah yang lebih sederhana: kita memiliki garis \(L\) dalam \(\real^2\) yang ditentukan oleh vektor \(\wvec\text{,}\) dan vektor lain \(\bvec\) yang tidak berada pada garis itu, seperti diperlihatkan di sebelah kiri Gambar 6.3.10. Kita ingin mencari \(\bhat\text{,}\) yakni vektor pada garis yang paling dekat dengan \(\bvec\text{,}\) seperti diilustrasikan di sebelah kanan Gambar 6.3.10.
Vektor berdimensi dua \(\wvec\) dan garis \(L\) yang ditentukannya. Terdapat vektor lain \(\bvec\) yang tidak berada pada garis tersebut.
Vektor berdimensi dua \(\wvec\) menentukan garis \(L\text{.}\) Terdapat vektor \(\bvec\) yang tidak berada pada garis tersebut beserta proyeksi ortogonalnya, \(\bhat\text{,}\) pada garis \(L\text{.}\) Vektor \(\bvec-\bhat\) ditampilkan ortogonal terhadap garis.
Kontrol papan ketik untuk menjelajahi diagram
Tombol Tindakan
Enter, A Aktifkan penjelajahan dengan papan ketik
B Aktifkan penjelajahan dengan menu
Escape Keluar dari mode penjelajahan
Panah bawah Jelajahi tingkat berikutnya di bawah
Panah atas Jelajahi tingkat berikutnya di atas
Panah kanan Jelajahi elemen berikutnya pada tingkat ini
Panah kiri Jelajahi elemen sebelumnya pada tingkat ini
X Aktifkan atau nonaktifkan mode ahli
W Tampilkan rincian tambahan jika tersedia
Spasi Ulangi keluaran suara
M Aktifkan pembesaran bertahap
Koma Aktifkan pembesaran langsung
N Nonaktifkan pembesaran
Z Tampilkan atau sembunyikan subtitel
C Gilir pengaturan kontras
T Gunakan warna monokrom
L Ganti bahasa jika tersedia
K Hentikan suara saat ini
Y Hentikan keluaran suara
O Mulai atau hentikan sonifikasi
P Ulangi keluaran sonifikasi
Gambar 6.3.10. Diberikan garis \(L\) dan vektor \(\bvec\text{,}\) kita mencari vektor \(\bhat\) pada \(L\) yang paling dekat dengan \(\bvec\text{.}\)
Untuk mencari \(\bhat\text{,}\) kita mensyaratkan agar \(\bvec-\bhat\) ortogonal terhadap \(L\text{.}\) Misalnya, jika \(\yvec\) adalah vektor lain pada garis tersebut, seperti diperlihatkan dalam Gambar 6.3.11, maka teorema Pythagoras menyiratkan bahwa
\begin{equation*} \len{\bvec-\yvec}^2 = |\bvec-\bhat|^2 + |\bhat-\yvec|^2 \end{equation*}
yang berarti bahwa \(\len{\bvec-\yvec}\geq|\bvec-\bhat|\text{.}\) Dengan demikian, \(\bhat\) lebih dekat dengan \(\bvec\) daripada vektor lain mana pun pada garis \(L\text{.}\)
Kontrol papan ketik untuk menjelajahi diagram
Tombol Tindakan
Enter, A Aktifkan penjelajahan dengan papan ketik
B Aktifkan penjelajahan dengan menu
Escape Keluar dari mode penjelajahan
Panah bawah Jelajahi tingkat berikutnya di bawah
Panah atas Jelajahi tingkat berikutnya di atas
Panah kanan Jelajahi elemen berikutnya pada tingkat ini
Panah kiri Jelajahi elemen sebelumnya pada tingkat ini
X Aktifkan atau nonaktifkan mode ahli
W Tampilkan rincian tambahan jika tersedia
Spasi Ulangi keluaran suara
M Aktifkan pembesaran bertahap
Koma Aktifkan pembesaran langsung
N Nonaktifkan pembesaran
Z Tampilkan atau sembunyikan subtitel
C Gilir pengaturan kontras
T Gunakan warna monokrom
L Ganti bahasa jika tersedia
K Hentikan suara saat ini
Y Hentikan keluaran suara
O Mulai atau hentikan sonifikasi
P Ulangi keluaran sonifikasi
Sebuah garis \(L\) ditampilkan bersama vektor \(\bvec\) yang tidak berada pada \(L\text{,}\) dan proyeksi ortogonalnya \(\bhat\) yang terletak pada \(L\text{.}\) Terdapat vektor lain \(\yvec\) pada \(L\text{,}\) dan vektor \(\bvec-\bhat\) serta \(\bvec-\yvec\) ditampilkan. Karena \(\bvec-\bhat\) ortogonal terhadap \(L\text{,}\) terbentuk segitiga siku-siku oleh \(\bvec-\bhat\text{,}\) \(\yvec-\bhat\text{,}\) dan \(\bvec-\yvec\text{.}\) Karena \(\bvec-\yvec\) merupakan sisi miring segitiga siku-siku ini, panjangnya lebih besar daripada panjang \(\bvec-\bhat\text{.}\)
Gambar 6.3.11. Vektor \(\bhat\) lebih dekat dengan \(\bvec\) daripada \(\yvec\) karena \(\bvec-\bhat\) ortogonal terhadap \(L\text{.}\)

Definisi 6.3.12.

Diberikan vektor \(\bvec\) dalam \(\real^m\) dan subruang \(W\) dari \(\real^m\text{,}\) proyeksi ortogonal \(\bvec\) pada \(W\) adalah vektor \(\bhat\) dalam \(W\) yang paling dekat dengan \(\bvec\text{.}\) Proyeksi ini dicirikan oleh sifat bahwa \(\bvec-\bhat\) ortogonal terhadap \(W\text{.}\)

Kegiatan 6.3.3.

Aktivitas ini memperlihatkan cara menentukan proyeksi ortogonal suatu vektor pada sebuah subruang dari \(\real^m\text{.}\)
  1. Mari kita mulai dengan memperhatikan garis \(L\) yang ditentukan oleh vektor \(\wvec=\twovec21\text{,}\) dan vektor \(\bvec=\twovec24\) yang tidak berada pada \(L\text{,}\) seperti diilustrasikan dalam Gambar 6.3.13.
    Vektor berdimensi dua \(\wvec\) menentukan garis \(L\text{.}\) Terdapat vektor \(\bvec\) yang tidak berada pada \(L\text{,}\) beserta proyeksi ortogonalnya \(\bhat\) pada garis tersebut dan selisih \(\bvec-\bhat\text{.}\)
    Diagram ini memuat sebagian besar unsur utama yang sama dengan diagram sebelumnya. Terdapat vektor \(\wvec\) yang menentukan garis \(L\text{,}\) vektor \(\bvec\) yang tidak berada pada garis, dan proyeksi ortogonal \(\bvec\) pada \(L\text{.}\) Perbedaan utamanya ialah proyeksi ortogonal \(\bhat\) dituliskan sebagai \(s\wvec\text{,}\) suatu kelipatan skalar dari \(\wvec\text{.}\) Dengan demikian, vektor \(\bvec-\bhat = \bvec-s\wvec\) ortogonal terhadap \(L\text{,}\) sehingga kita memiliki cara untuk mencari \(s\) dan selanjutnya \(\bhat\text{.}\)
    Kontrol papan ketik untuk menjelajahi diagram
    Tombol Tindakan
    Enter, A Aktifkan penjelajahan dengan papan ketik
    B Aktifkan penjelajahan dengan menu
    Escape Keluar dari mode penjelajahan
    Panah bawah Jelajahi tingkat berikutnya di bawah
    Panah atas Jelajahi tingkat berikutnya di atas
    Panah kanan Jelajahi elemen berikutnya pada tingkat ini
    Panah kiri Jelajahi elemen sebelumnya pada tingkat ini
    X Aktifkan atau nonaktifkan mode ahli
    W Tampilkan rincian tambahan jika tersedia
    Spasi Ulangi keluaran suara
    M Aktifkan pembesaran bertahap
    Koma Aktifkan pembesaran langsung
    N Nonaktifkan pembesaran
    Z Tampilkan atau sembunyikan subtitel
    C Gilir pengaturan kontras
    T Gunakan warna monokrom
    L Ganti bahasa jika tersedia
    K Hentikan suara saat ini
    Y Hentikan keluaran suara
    O Mulai atau hentikan sonifikasi
    P Ulangi keluaran sonifikasi
    Gambar 6.3.13. Mencari proyeksi ortogonal \(\bvec\) pada garis yang ditentukan oleh \(\wvec\text{.}\)
    1. Untuk mencari \(\bhat\text{,}\) mula-mula perhatikan bahwa \(\bhat = s\wvec\) untuk suatu skalar \(s\text{.}\) Karena \(\bvec-\bhat = \bvec - s\wvec\) ortogonal terhadap \(\wvec\text{,}\) apa yang kita ketahui tentang hasil kali titik
      \begin{equation*} (\bvec-s\wvec)\cdot\wvec\text{?} \end{equation*}
    2. Terapkan sifat distributif hasil kali titik untuk mencari skalar \(s\text{.}\) Apakah vektor \(\bhat\text{,}\) yaitu proyeksi ortogonal \(\bvec\) pada \(L\text{?}\)
    3. Secara lebih umum, jelaskan mengapa proyeksi ortogonal \(\bvec\) pada garis yang ditentukan oleh \(\wvec\) adalah
      \begin{equation*} \bhat= \frac{\bvec\cdot\wvec}{\wvec\cdot\wvec}~\wvec\text{.} \end{equation*}
  2. Gagasan yang sama berlaku secara lebih umum. Misalkan kita memiliki himpunan ortogonal vektor \(\wvec_1=\threevec22{-1}\) dan \(\wvec_2=\threevec102\) yang menentukan bidang \(W\) dalam \(\real^3\text{.}\) Jika \(\bvec=\threevec396\) adalah vektor lain dalam \(\real^3\text{,}\) kita mencari vektor \(\bhat\) pada bidang \(W\) yang paling dekat dengan \(\bvec\text{.}\) Seperti sebelumnya, vektor \(\bvec-\bhat\) akan ortogonal terhadap \(W\text{,}\) seperti diilustrasikan dalam Gambar 6.3.14.
    Kontrol papan ketik untuk menjelajahi diagram
    Tombol Tindakan
    Enter, A Aktifkan penjelajahan dengan papan ketik
    B Aktifkan penjelajahan dengan menu
    Escape Keluar dari mode penjelajahan
    Panah bawah Jelajahi tingkat berikutnya di bawah
    Panah atas Jelajahi tingkat berikutnya di atas
    Panah kanan Jelajahi elemen berikutnya pada tingkat ini
    Panah kiri Jelajahi elemen sebelumnya pada tingkat ini
    X Aktifkan atau nonaktifkan mode ahli
    W Tampilkan rincian tambahan jika tersedia
    Spasi Ulangi keluaran suara
    M Aktifkan pembesaran bertahap
    Koma Aktifkan pembesaran langsung
    N Nonaktifkan pembesaran
    Z Tampilkan atau sembunyikan subtitel
    C Gilir pengaturan kontras
    T Gunakan warna monokrom
    L Ganti bahasa jika tersedia
    K Hentikan suara saat ini
    Y Hentikan keluaran suara
    O Mulai atau hentikan sonifikasi
    P Ulangi keluaran sonifikasi
    Dua vektor ortogonal berdimensi tiga, \(\wvec_1\) dan \(\wvec_2\text{,}\) menentukan bidang \(W\text{.}\) Terdapat vektor \(\bvec\) yang tidak berada pada bidang tersebut beserta proyeksi ortogonalnya \(\bhat\) pada \(W\text{.}\) Vektor \(\bvec-\bhat\) digambarkan sebagai vektor yang ortogonal terhadap \(W\text{.}\)
    Gambar 6.3.14. Diberikan bidang \(W\) yang ditentukan oleh vektor ortogonal \(\wvec_1\) dan \(\wvec_2\text{,}\) serta vektor lain \(\bvec\text{,}\) kita mencari vektor \(\bhat\) pada \(W\) yang paling dekat dengan \(\bvec\text{.}\)
    1. Vektor \(\bvec-\bhat\) ortogonal terhadap \(W\text{.}\) Apa artinya bagi hasil kali titik \((\bvec-\bhat)\cdot\wvec_1\) dan \((\bvec-\bhat)\cdot\wvec_2\text{?}\)
    2. Karena \(\bhat\) berada pada bidang \(W\text{,}\) kita dapat menuliskannya sebagai kombinasi linear \(\bhat = c_1\wvec_1 + c_2\wvec_2\text{.}\) Dengan demikian,
      \begin{equation*} \bvec-\bhat = \bvec - (c_1\wvec_1+c_2\wvec_2)\text{.} \end{equation*}
      Carilah bobot \(c_1\) dengan mengambil hasil kali titik \(\bvec-\bhat\) dengan \(\wvec_1\) dan menerapkan sifat distributif hasil kali titik. Dengan cara serupa, carilah bobot \(c_2\text{.}\)
    3. Apakah vektor \(\bhat\text{,}\) yaitu proyeksi ortogonal \(\bvec\) pada bidang \(W\text{?}\)
  3. Misalkan \(W\) adalah subruang dari \(\real^m\) dengan basis ortogonal \(\wvec_1,\wvec_2,\ldots,\wvec_n\text{,}\) dan \(\bvec\) adalah vektor dalam \(\real^m\text{.}\) Jelaskan mengapa proyeksi ortogonal \(\bvec\) pada \(W\) adalah vektor
    \begin{equation*} \bhat = \frac{\bvec\cdot\wvec_1}{\wvec_1\cdot\wvec_1}~\wvec_1 + \frac{\bvec\cdot\wvec_2}{\wvec_2\cdot\wvec_2}~\wvec_2 + \cdots + \frac{\bvec\cdot\wvec_n}{\wvec_n\cdot\wvec_n}~\wvec_n\text{.} \end{equation*}
  4. Misalkan \(\uvec_1,\uvec_2,\ldots,\uvec_n\) adalah basis ortonormal bagi \(W\text{;}\) yaitu, vektor-vektornya saling ortogonal dan memiliki panjang satuan. Jelaskan mengapa proyeksi ortogonalnya adalah
    \begin{equation*} \bhat= (\bvec\cdot\uvec_1)~\uvec_1 + (\bvec\cdot\uvec_2)~\uvec_2 + \cdots + (\bvec\cdot\uvec_n)~\uvec_n\text{.} \end{equation*}
  5. Jika \(Q=\begin{bmatrix} \uvec_1 \amp \uvec_2 \amp \ldots \amp \uvec_n \end{bmatrix}\) adalah matriks yang kolom-kolomnya membentuk basis ortonormal bagi \(W\text{,}\) gunakan Proposisi 6.2.8 untuk menjelaskan mengapa \(\bhat = QQ^T\bvec\text{.}\)
Dalam semua kasus yang dibahas dalam aktivitas tersebut, kita mencari \(\bhat\text{,}\) yakni vektor dalam subruang \(W\) yang paling dekat dengan vektor \(\bvec\text{.}\) Vektor ini ditemukan dengan mensyaratkan agar \(\bvec-\bhat\) ortogonal terhadap \(W\text{.}\) Artinya, \((\bvec-\bhat)\cdot\wvec = 0\) untuk sembarang vektor \(\wvec\) dalam \(W\text{.}\)
Jika kita memiliki basis ortogonal \(\wvec_1,\wvec_2,\ldots,\wvec_n\) bagi \(W\text{,}\) maka \(\bhat = c_1\wvec_1+c_2\wvec_2+\cdots+c_n\wvec_n\text{.}\) Dengan demikian,
\begin{align*} (\bvec-\bhat)\cdot\wvec_i \amp = 0\\ \bvec\cdot\wvec_i \amp = \bhat\cdot\wvec_i\\ \bvec\cdot\wvec_i \amp = (c_1\wvec_1+c_2\wvec_2+\cdots + c_n\wvec_n)\cdot\wvec_i\\ \bvec\cdot\wvec_i \amp = c_i\wvec_i\cdot\wvec_i\\ c_i \amp = \frac{\bvec\cdot\wvec_i}{\wvec_i\cdot\wvec_i}. \end{align*}
Hal ini menghasilkan rumus proyeksi:

Perhatian.

Ingatlah bahwa rumus proyeksi dalam Proposisi 6.3.15 hanya berlaku ketika basis \(\wvec_1,\wvec_2,\cdots,\wvec_n\) dari \(W\) bersifat ortogonal.
Jika kita memiliki basis ortonormal \(\uvec_1,\uvec_2,\ldots,\uvec_n\) bagi \(W\text{,}\) rumus proyeksi menyederhana menjadi
\begin{equation*} \bhat= (\bvec\cdot\uvec_1)~\uvec_1 + (\bvec\cdot\uvec_2)~\uvec_2 + \cdots + (\bvec\cdot\uvec_n)~\uvec_n\text{.} \end{equation*}
Jika kemudian kita membentuk matriks
\begin{equation*} Q = \begin{bmatrix} \uvec_1 \amp \uvec_2 \amp \ldots \amp \uvec_n \end{bmatrix}\text{,} \end{equation*}
pernyataan ini dapat ditulis secara ringkas sebagai
\begin{align*} \bhat \amp {}={} (\bvec\cdot\uvec_1)~\uvec_1 + (\bvec\cdot\uvec_2)~\uvec_2 + \cdots + (\bvec\cdot\uvec_n)~\uvec_n\\ \amp {}={} \begin{bmatrix} \uvec_1\amp\uvec_2\amp\ldots\amp\uvec_n \end{bmatrix} \begin{bmatrix} \uvec_1\cdot\bvec \\ \uvec_2\cdot\bvec \\ \vdots \\ \uvec_n\cdot\bvec \\ \end{bmatrix}\\ \amp {}={} QQ^T\bvec \end{align*}
Hal ini menghasilkan proposisi berikut.

Contoh 6.3.17.

Dalam aktivitas sebelumnya, kita membahas bidang \(W\) yang ditentukan oleh dua vektor ortogonal
\begin{equation*} \wvec_1=\threevec22{-1},\hspace{24pt} \wvec_2=\threevec102\text{.} \end{equation*}
Kita dapat membentuk basis ortonormal dengan mengalikan vektor-vektor ini dengan skalar agar panjangnya menjadi satuan:
\begin{equation*} \uvec_1=\frac13\threevec22{-1} = \threevec{2/3}{2/3}{-1/3},\hspace{24pt} \uvec_2=\frac1{\sqrt{5}}\threevec102 = \threevec{1/\sqrt{5}}0{2/\sqrt{5}}\text{.} \end{equation*}
Dengan menggunakan vektor-vektor ini, kita membentuk matriks
\begin{equation*} Q = \begin{bmatrix} 2/3 \amp 1/\sqrt{5} \\ 2/3 \amp 0 \\ -1/3 \amp 2/\sqrt{5} \\ \end{bmatrix}\text{.} \end{equation*}
Proyeksi pada bidang \(W\) kemudian diberikan oleh matriks
\begin{equation*} QQ^T = \begin{bmatrix} 2/3 \amp 1/\sqrt{5} \\ 2/3 \amp 0 \\ -1/3 \amp 2/\sqrt{5} \\ \end{bmatrix} \begin{bmatrix} 2/3 \amp 2/3 \amp -1/3 \\ 1/\sqrt{5} \amp 0 \amp 2/\sqrt{5} \\ \end{bmatrix} = \begin{bmatrix} {29}/{45} \amp {4}/{9} \amp {8}/{45} \\ {4}/{9} \amp {4}/{9} \amp -{2}/{9} \\ {8}/{45} \amp -{2}/{9} \amp {41}/{45} \end{bmatrix}\text{.} \end{equation*}
Mari kita periksa bahwa cara ini bekerja dengan memperhatikan vektor \(\bvec=\threevec100\) dan mencari \(\bhat\text{,}\) yakni proyeksi ortogonalnya pada bidang \(W\text{.}\) Dalam basis semula \(\wvec_1\) dan \(\wvec_2\text{,}\) rumus proyeksi dari Proposisi 6.3.15 menyatakan bahwa
\begin{equation*} \bhat=\frac{\bvec\cdot\wvec_1} {\wvec_1\cdot\wvec_1}~\wvec_1 + \frac{\bvec\cdot\wvec_2} {\wvec_2\cdot\wvec_2}~\wvec_2 = \cthreevec{{29}/{45}}{4/9}{8/{45}} \\ \end{equation*}
Sebagai alternatif, kita menggunakan matriks \(QQ^T\text{,}\) seperti dalam Proposisi 6.3.16, untuk memperoleh
\begin{equation*} \bhat = QQ^T\bvec = \begin{bmatrix} {29}/{45} \amp {4}/{9} \amp {8}/{45} \\ {4}/{9} \amp {4}/{9} \amp -{2}/{9} \\ {8}/{45} \amp -{2}/{9} \amp {41}/{45} \end{bmatrix}\threevec100 = \cthreevec{{29}/{45}}{4/9}{8/{45}}\text{.} \end{equation*}

Kegiatan 6.3.4.

  1. Misalkan \(L\) adalah garis dalam \(\real^3\) yang ditentukan oleh vektor \(\wvec=\threevec{1}{2}{-2}\text{.}\)
    1. Carilah basis ortonormal \(\uvec\) bagi \(L\text{.}\)
    2. Bentuklah matriks \(Q = \begin{bmatrix}\uvec\end{bmatrix}\) dan gunakan matriks itu untuk membentuk matriks \(P\) yang memproyeksikan vektor secara ortogonal pada \(L\text{.}\)
    3. Gunakan matriks Anda untuk mencari \(\bhat\text{,}\) yaitu proyeksi ortogonal \(\bvec=\threevec111\) pada \(L\text{.}\)
    4. Carilah \(\rank(P)\) dan jelaskan makna geometrisnya.
  2. Vektor-vektor
    \begin{equation*} \wvec_1 = \fourvec1111,\hspace{24pt} \wvec_2 = \fourvec011{-2} \end{equation*}
    membentuk basis ortogonal bagi \(W\text{,}\) suatu subruang berdimensi dua dari \(\real^4\text{.}\)
    1. Gunakan rumus proyeksi dari Proposisi 6.3.15 untuk mencari \(\bhat\text{,}\) yaitu proyeksi ortogonal \(\bvec=\fourvec92{-2}3\) pada \(W\text{.}\)
    2. Carilah basis ortonormal \(\uvec_1\) dan \(\uvec_2\) bagi \(W\text{,}\) lalu gunakan basis itu untuk membentuk matriks \(P\) yang memproyeksikan vektor secara ortogonal pada \(W\text{.}\) Periksalah bahwa \(P\bvec = \bhat\text{,}\) yaitu proyeksi ortogonal yang Anda temukan pada bagian sebelumnya dalam aktivitas ini.
    3. Carilah \(\rank(P)\) dan jelaskan makna geometrisnya.
    4. Carilah basis bagi \(W^\perp\text{.}\)
    5. Carilah vektor \(\bvec^\perp\) dalam \(W^\perp\) sedemikian sehingga
      \begin{equation*} \bvec = \bhat + \bvec^\perp. \end{equation*}
    6. Jika \(Q\) adalah matriks yang kolom-kolomnya \(\uvec_1\) dan \(\uvec_2\text{,}\) carilah hasil kali \(Q^TQ\) dan jelaskan hasil Anda.
Aktivitas ini memperlihatkan satu hal penting. Kita menemukan \(\bhat\text{,}\) yaitu proyeksi ortogonal \(\bvec\) pada \(W\text{,}\) dengan mensyaratkan agar \(\bvec-\bhat\) ortogonal terhadap \(W\text{.}\) Dengan kata lain, \(\bvec-\bhat\) adalah vektor dalam komplemen ortogonal \(W^\perp\text{,}\) yang dapat kita nyatakan sebagai \(\bvec^\perp\text{.}\) Hal ini menjelaskan proposisi berikut, yang diilustrasikan dalam Gambar 6.3.19.
Kontrol papan ketik untuk menjelajahi diagram
Tombol Tindakan
Enter, A Aktifkan penjelajahan dengan papan ketik
B Aktifkan penjelajahan dengan menu
Escape Keluar dari mode penjelajahan
Panah bawah Jelajahi tingkat berikutnya di bawah
Panah atas Jelajahi tingkat berikutnya di atas
Panah kanan Jelajahi elemen berikutnya pada tingkat ini
Panah kiri Jelajahi elemen sebelumnya pada tingkat ini
X Aktifkan atau nonaktifkan mode ahli
W Tampilkan rincian tambahan jika tersedia
Spasi Ulangi keluaran suara
M Aktifkan pembesaran bertahap
Koma Aktifkan pembesaran langsung
N Nonaktifkan pembesaran
Z Tampilkan atau sembunyikan subtitel
C Gilir pengaturan kontras
T Gunakan warna monokrom
L Ganti bahasa jika tersedia
K Hentikan suara saat ini
Y Hentikan keluaran suara
O Mulai atau hentikan sonifikasi
P Ulangi keluaran sonifikasi
Sebuah garis dua dimensi \(L\) dan komplemen ortogonalnya \(L^\perp\text{,}\) yang juga merupakan garis dua dimensi. Terdapat vektor \(\bvec\text{,}\) proyeksi ortogonalnya \(\bhat\) pada \(L\text{,}\) dan proyeksi ortogonalnya \(\bvec^\perp\) pada \(L^\perp\text{.}\) Hal ini memperlihatkan bahwa \(\bvec=\bhat + \bvec^\perp\text{.}\)
Gambar 6.3.19. Sebuah vektor \(\bvec\) bersama \(\bhat\text{,}\) yaitu proyeksi ortogonalnya pada garis \(L\text{,}\) dan \(\bvec^\perp\text{,}\) yaitu proyeksi ortogonalnya pada komplemen ortogonal \(L^\perp\text{.}\)
Mari kita rangkum hasil yang telah kita peroleh. Jika \(Q\) adalah matriks dengan kolom-kolom \(\uvec_1, \uvec_2,\ldots,\uvec_n\) yang membentuk himpunan ortonormal dalam \(\real^m\text{,}\) maka
  • \(Q^TQ = I_n\text{,}\) yaitu matriks identitas \(n\times n\text{,}\) karena hasil kali ini menghitung hasil kali titik antar-kolom \(Q\text{.}\)
  • \(QQ^T\) adalah matriks yang memproyeksikan vektor secara ortogonal pada \(W\text{,}\) yaitu subruang dari \(\real^m\) yang direntang oleh \(\uvec_1,\ldots,\uvec_n\text{.}\)
Seperti telah kita nyatakan sebelumnya, perkalian matriks bergantung pada urutan perkalian, dan hal ini tampak jelas di sini.
Karena \(Q^TQ=I\text{,}\) kita mungkin tergoda untuk menyatakan bahwa \(Q\) invertibel. Namun, biasanya hal itu tidak benar. Ingatlah bahwa matriks invertibel harus merupakan matriks persegi, sedangkan matriks \(Q\) hanya akan persegi jika \(n=m\text{.}\) Dalam kasus ini, terdapat \(m\) vektor dalam himpunan ortonormal, sehingga subruang \(W\) yang direntang oleh vektor \(\uvec_1,\uvec_2,\ldots,\uvec_m\) adalah \(\real^m\text{.}\) Jika \(\bvec\) adalah vektor dalam \(\real^m\text{,}\) maka \(\bhat=QQ^T\bvec\) adalah proyeksi ortogonal \(\bvec\) pada \(\real^m\text{.}\) Dengan kata lain, \(QQ^T\bvec\) adalah vektor dalam \(\real^m\) yang paling dekat dengan \(\bvec\text{,}\) dan vektor terdekat itu tentulah \(\bvec\) sendiri. Karena itu, \(QQ^T\bvec = \bvec\text{,}\) yang berarti \(QQ^T=I\text{.}\) Dalam kasus ini, \(Q\) merupakan matriks invertibel.

Contoh 6.3.20.

Perhatikan himpunan ortonormal vektor
\begin{equation*} \uvec_1=\threevec{1/\sqrt{3}}{-1/\sqrt{3}}{1/\sqrt{3}}, \hspace{24pt} \uvec_2=\threevec{1/\sqrt{2}}{1/\sqrt{2}}0 \end{equation*}
dan matriks yang ditentukannya
\begin{equation*} Q = \begin{bmatrix} 1/\sqrt{3} \amp 1/\sqrt{2} \\ -1/\sqrt{3} \amp 1/\sqrt{2} \\ 1/\sqrt{3} \amp 0 \\ \end{bmatrix}\text{.} \end{equation*}
Dalam kasus ini, \(\uvec_1\) dan \(\uvec_2\) merentang sebuah bidang, yaitu subruang berdimensi 2 dari \(\real^3\text{.}\) Kita mengetahui bahwa \(Q^TQ = I_2\) dan \(QQ^T\) memproyeksikan vektor secara ortogonal pada bidang tersebut. Namun, \(Q\) bukan matriks persegi sehingga tidak invertibel.

Contoh 6.3.21.

Sekarang perhatikan himpunan ortonormal vektor
\begin{equation*} \uvec_1=\threevec{1/\sqrt{3}}{-1/\sqrt{3}}{1/\sqrt{3}}, \hspace{24pt} \uvec_2=\threevec{1/\sqrt{2}}{1/\sqrt{2}}0, \hspace{24pt} \uvec_3=\threevec{1/\sqrt{6}}{-1/\sqrt{6}}{-2/\sqrt{6}} \end{equation*}
dan matriks yang ditentukannya
\begin{equation*} Q = \begin{bmatrix} 1/\sqrt{3} \amp 1/\sqrt{2} \amp 1/\sqrt{6} \\ -1/\sqrt{3} \amp 1/\sqrt{2} \amp -1/\sqrt{6} \\ 1/\sqrt{3} \amp 0 \amp -2/\sqrt{6} \\ \end{bmatrix}\text{.} \end{equation*}
Di sini, \(\uvec_1\text{,}\) \(\uvec_2\text{,}\) dan \(\uvec_3\) membentuk basis bagi \(\real^3\text{,}\) sehingga \(Q^TQ=I_3\) dan \(QQ^T=I_3\text{.}\) Karena itu, \(Q\) merupakan matriks persegi dan invertibel.
Selain itu, karena \(Q^TQ = I\text{,}\) kita melihat bahwa \(Q^{-1} = Q^T\text{,}\) sehingga mencari invers \(Q\) cukup dengan menuliskan transposenya. Matriks dengan sifat ini sangat istimewa dan akan memegang peranan penting dalam pembahasan berikutnya. Oleh karena itu, kita akan memberinya nama khusus.

Definisi 6.3.22.

Matriks persegi \(m\times m\text{,}\) \(Q\text{,}\) yang kolom-kolomnya membentuk basis ortonormal bagi \(\real^m\) disebut ortogonal.
Terminologi ini dapat sedikit membingungkan. Kita menyebut sebuah basis ortogonal jika vektor-vektor basisnya saling ortogonal. Namun, sebuah matriks disebut ortogonal jika kolom-kolomnya saling ortogonal dan memiliki panjang satuan. Hal ini perlu diingat ketika membaca pernyataan mengenai basis ortogonal dan matriks ortogonal. Sementara itu, kita catat proposisi berikut.

Subbagian 6.3.4 Ringkasan

Bagian ini memperkenalkan himpunan ortogonal dan rumus proyeksi yang memungkinkan kita memproyeksikan vektor secara ortogonal pada suatu subruang.
  • Diberikan himpunan ortogonal \(\wvec_1,\wvec_2,\ldots,\wvec_n\) yang merentang subruang berdimensi \(n\text{,}\) \(W\text{,}\) dari \(\real^m\text{,}\) proyeksi ortogonal \(\bvec\) pada \(W\) adalah vektor dalam \(W\) yang paling dekat dengan \(\bvec\) dan dapat ditulis sebagai
    \begin{equation*} \bhat = \frac{\bvec\cdot\wvec_1}{\wvec_1\cdot\wvec_1}~\wvec_1 + \frac{\bvec\cdot\wvec_2}{\wvec_2\cdot\wvec_2}~\wvec_2 + \cdots + \frac{\bvec\cdot\wvec_n}{\wvec_n\cdot\wvec_n}~\wvec_n\text{.} \end{equation*}
  • Jika \(\uvec_1,\uvec_2,\ldots,\uvec_n\) adalah basis ortonormal bagi \(W\) dan \(Q\) adalah matriks yang kolom-kolomnya \(\uvec_i\text{,}\) maka matriks \(P=QQ^T\) memproyeksikan vektor secara ortogonal pada \(W\text{.}\)
  • Jika kolom-kolom \(Q\) membentuk basis ortonormal bagi subruang berdimensi \(n\) dari \(\real^m\text{,}\) maka \(Q^TQ=I_n\text{.}\)
  • Matriks ortogonal \(Q\) adalah matriks persegi yang kolom-kolomnya membentuk basis ortonormal. Dalam kasus ini, \(QQ^T=Q^TQ = I\text{,}\) sehingga \(Q^{-1} = Q^T\text{.}\)

Latihan 6.3.5 Latihan

1.

Misalkan
\begin{equation*} \wvec_1=\threevec111,\hspace{24pt} \wvec_2=\threevec1{-2}1. \end{equation*}
  1. Verifikasikan bahwa \(\wvec_1\) dan \(\wvec_2\) membentuk basis ortogonal bagi suatu bidang \(W\) dalam \(\real^3\text{.}\)
  2. Gunakan Proposisi 6.3.15 untuk menentukan \(\bhat\text{,}\) yaitu proyeksi ortogonal \(\bvec=\threevec21{-1}\) ke \(W\text{.}\)
  3. Tentukan basis ortonormal \(\uvec_1\text{,}\) \(\uvec_2\) bagi \(W\text{.}\)
  4. Tentukan matriks \(P\) yang merepresentasikan transformasi matriks yang memproyeksikan vektor dalam \(\real^3\) secara ortogonal ke \(W\text{.}\) Verifikasikan bahwa \(\bhat = P\bvec\text{.}\)
  5. Tentukan \(\rank(P)\) dan jelaskan arti geometrisnya.

2.

Perhatikan vektor-vektor
\begin{equation*} \wvec_1=\threevec111,\hspace{24pt} \wvec_2=\threevec{-1}01,\hspace{24pt} \wvec_3=\threevec1{-2}1. \end{equation*}
  1. Jelaskan mengapa vektor-vektor ini membentuk basis ortogonal bagi \(\real^3\text{.}\)
  2. Misalkan \(A=\begin{bmatrix} \wvec_1 \amp \wvec_2 \amp \wvec_3 \end{bmatrix}\text{.}\) Hitung hasil kali \(A^TA\text{.}\) Mengapa hasil kali ini berupa matriks diagonal, dan apa arti entri-entri diagonalnya?
  3. Nyatakan vektor \(\bvec=\threevec{-3}{-6}3\) sebagai kombinasi linear dari \(\wvec_1\text{,}\) \(\wvec_2\text{,}\) dan \(\wvec_3\text{.}\)
  4. Kalikan vektor-vektor \(\wvec_1\text{,}\) \(\wvec_2\text{,}\) \(\wvec_3\) dengan skalar yang sesuai untuk menentukan basis ortonormal \(\uvec_1\text{,}\) \(\uvec_2\text{,}\) \(\uvec_3\) bagi \(\real^3\text{.}\)
  5. Jika \(Q=\begin{bmatrix} \uvec_1 \amp \uvec_2 \amp \uvec_3 \end{bmatrix}\text{,}\) tentukan hasil kali matriks \(QQ^T\) dan jelaskan hasilnya.

3.

Misalkan
\begin{equation*} \wvec_1=\fourvec110{-1}, \hspace{24pt} \wvec_2=\fourvec1011 \end{equation*}
membentuk basis ortogonal bagi subruang \(W\) dari \(\real^4\text{.}\)
  1. Tentukan \(\bhat\text{,}\) yaitu proyeksi ortogonal \(\bvec=\fourvec{2}{-1}{-6}{7}\) ke \(W\text{.}\)
  2. Tentukan vektor \(\bvec^\perp\) dalam \(W^\perp\) sedemikian sehingga \(\bvec = \bhat + \bvec^\perp\text{.}\)
  3. Tentukan basis bagi \(W^\perp\text{,}\) lalu nyatakan \(\bvec^\perp\) sebagai kombinasi linear dari vektor-vektor basis tersebut.

4.

Perhatikan vektor-vektor
\begin{equation*} \wvec_1=\fourvec1100,\hspace{24pt} \wvec_2=\fourvec0011,\hspace{24pt} \bvec=\fourvec2{-4}13. \end{equation*}
  1. Jika \(L\) adalah garis yang ditentukan oleh vektor \(\wvec_1\text{,}\) tentukan vektor dalam \(L\) yang paling dekat dengan \(\bvec\text{.}\) Namai vektor ini \(\bhat_1\text{.}\)
  2. Jika \(W\) adalah subruang yang direntang oleh \(\wvec_1\) dan \(\wvec_2\text{,}\) tentukan vektor dalam \(W\) yang paling dekat dengan \(\bvec\text{.}\) Namai vektor ini \(\bhat_2\text{.}\)
  3. Tentukan apakah \(\bhat_1\) atau \(\bhat_2\) yang lebih dekat dengan \(\bvec\text{,}\) dan jelaskan alasannya.

5.

Misalkan \(\wvec=\threevec2{-1}2\) menentukan sebuah garis \(L\) dalam \(\real^3\text{.}\)
  1. Tentukan proyeksi ortogonal vektor-vektor \(\threevec100\text{,}\) \(\threevec010\text{,}\) \(\threevec001\) ke \(L\text{.}\)
  2. Tentukan matriks \(P = \frac{1}{\len{\wvec}^2} \wvec \wvec^T\text{.}\)
  3. Gunakan Proposisi 2.5.6 untuk menjelaskan mengapa kolom-kolom \(P\) berkaitan dengan proyeksi ortogonal yang Anda tentukan pada bagian pertama latihan ini.

6.

Misalkan
\begin{equation*} \vvec_1=\threevec103,\hspace{24pt} \vvec_2=\threevec222 \end{equation*}
membentuk basis bagi suatu bidang \(W\) dalam \(\real^3\text{.}\)
  1. Tentukan basis bagi garis yang merupakan komplemen ortogonal \(W^\perp\text{.}\)
  2. Diberikan vektor \(\bvec=\threevec6{-6}2\text{,}\) tentukan \(\yvec\text{,}\) yaitu proyeksi ortogonal \(\bvec\) ke garis \(W^\perp\text{.}\)
  3. Jelaskan mengapa vektor \(\zvec = \bvec-\yvec\) harus berada dalam \(W\text{,}\) dan tuliskan \(\zvec\) sebagai kombinasi linear dari \(\vvec_1\) dan \(\vvec_2\text{.}\)

7.

Tentukan apakah pernyataan-pernyataan berikut benar atau salah, dan jelaskan alasan Anda.
  1. Jika kolom-kolom \(Q\) membentuk basis ortonormal bagi subruang \(W\) dan \(\wvec\) adalah vektor dalam \(W\text{,}\) maka \(QQ^T\wvec = \wvec\text{.}\)
  2. Himpunan vektor ortogonal dalam \(\real^8\) tidak dapat memiliki lebih dari 8 vektor.
  3. Jika \(Q\) adalah matriks \(7\times5\) yang kolom-kolomnya ortonormal, maka \(QQ^T = I_7\text{.}\)
  4. Jika \(Q\) adalah matriks \(7\times5\) yang kolom-kolomnya ortonormal, maka \(Q^TQ = I_5\text{.}\)
  5. Jika proyeksi ortogonal \(\bvec\) ke suatu subruang \(W\) memenuhi \(\bhat = \zerovec\text{,}\) maka \(\bvec\) berada dalam \(W^\perp\text{.}\)

8.

Misalkan \(Q\) adalah matriks ortogonal.
  1. Dengan mengingat bahwa \(\vvec\cdot\wvec=\vvec^T\wvec\text{,}\) jelaskan mengapa
    \begin{equation*} Q\xvec\cdot(Q\yvec) = \xvec\cdot\yvec. \end{equation*}
  2. Jelaskan mengapa \(\len{Q\xvec} = \len{\xvec}\text{.}\)
    Artinya, panjang suatu vektor tidak berubah setelah dikalikan dengan matriks ortogonal.
  3. Jika \(\lambda\) adalah nilai eigen riil dari \(Q\text{,}\) jelaskan mengapa \(\lambda=\pm1\text{.}\)

9.

Jelaskan mengapa pernyataan-pernyataan berikut benar.
  1. Jika \(Q\) adalah matriks ortogonal, maka \(\det Q = \pm 1\text{.}\)
  2. Jika \(Q\) adalah matriks \(8\times 4\) yang kolom-kolomnya ortonormal, maka \(QQ^T\) adalah matriks \(8\times8\) yang berpangkat 4.
  3. Jika \(\bhat\) adalah proyeksi ortogonal \(\bvec\) ke suatu subruang \(W\text{,}\) maka \(\bvec-\bhat\) adalah proyeksi ortogonal \(\bvec\) ke \(W^\perp\text{.}\)

10.

Latihan ini membahas matriks ortogonal \(2\times2\text{.}\)
  1. Dalam Subbab 2.6, kita melihat bahwa matriks \(\begin{bmatrix} \cos\theta \amp -\sin\theta \\ \sin\theta \amp \cos\theta \end{bmatrix}\) merepresentasikan rotasi sebesar sudut \(\theta\text{.}\) Jelaskan mengapa matriks ini merupakan matriks ortogonal.
  2. Kita juga melihat bahwa matriks \(\begin{bmatrix} \cos\theta \amp \sin\theta \\ \sin\theta \amp -\cos\theta \end{bmatrix}\) merepresentasikan pencerminan terhadap sebuah garis. Jelaskan mengapa matriks ini merupakan matriks ortogonal.
  3. Misalkan \(\uvec_1=\twovec{\cos\theta}{\sin\theta}\) adalah vektor satuan dua dimensi. Gunakan sketsa untuk menunjukkan semua kemungkinan vektor \(\uvec_2\) sedemikian sehingga \(\uvec_1\) dan \(\uvec_2\) membentuk basis ortonormal bagi \(\real^2\text{.}\)
  4. Jelaskan mengapa setiap matriks ortogonal \(2\times2\) merupakan rotasi atau pencerminan.